Karunia Konsistensi

Judul tulisan ini sama dengan judul bab dalam buku “Yuk, Jadi Orang Tua Shalih” karya Ihsan baihaqy atau lebih akrab di sapa Abah Ihsan. Tapi, Saat ini saya tidak sedang ingin membahas tentang buku tersebut. Saya akan membahas hal yang berhubungan dengan “karunia konsistensi” terutama bagi orang tua dan guru.

Rasa syukur yang tak terhingga karena telah dititipkan malaikat-malaikat kecil penghibur hati oleh Allah, yaitu anak.
Anak adalah amanah dari Allah dengan fitrah kebaikan dan diharapkan kelak kembali kepada Allah dengan fitrah yang sama yaitu kebaikan. Mempertahankan fitrah yang telah ada tidaklah mudah, mengingat banyaknya tantangan yang harus dilalui karena tantangan merupakan sunatullah perjalanan hidup. Salah satu cara mempertahankan fitrah kebaikan dalam diri anak adalah konsisten.

Pada tulisan sebelumnya saya pernah bercerita tentang ketegasan orang tua terhadap anaknya. Tulisan ini juga masih berhubungan dengan tulisan tersebut.

Konsisten adalah sebuah karunia yang Allah berikan terutama bagi orang tua. Saya akan kembali berkisah tentang murid saya yang menyebabkan saya banyak belajar tentang konsistensi.

Mengaji masuk dalam kurikulum wajib di TK tempat saya mengajar. Mengaji juga menjadi salah satu kegiatan yang tidak difavoritkan oleh sebagian besar anak di kelas saya. Saya terus memutar otak dan mencoba berbagai cara agar kegiatan ini menjadi kegiatan favorit anak. Salah satunya dengan melakukan perjanjian dengan mereka. Jangan dikira anak usia 3-4 tahun tidak bisa melakukan perjanjian. Justru mereka yang paling konsisten. Isi perjanjiannya “anak-anak boleh bermain setelah mengaji”. Awalnya anak-anak sangat terpaksa melakukannya karena mereka sangat tergiur dengan mainan. Selain itu konsentrasi anak seusia mereka hanya sebentar. Tak jarang sambil mengantri giliran mengaji tangan menggapai-gapai mainan yang dimainkan oleh temannya yang telah selesai mengaji. Tak jarang muka-muka memelas ditampakkan dan membuat iba. Jangan mudah terpengaruh, karena itu salah satu jurus yang dikeluarkan agar kita memberikan izin. Ingatkan mereka pada perjanjian awal. Biasanya anak terus melakukan hal yang sama hingga kita merasa bosan untuk mengingatkan. Saya katakan kepada para ortu jangan pernah bosan walaupun mulut sudah berbusa. Anak-anak harus tau kalau kita orang yang konsisten. Hingga akhirnya mereka sendiri yang bosan untuk membuat kita bosan. Kegiatan semacam ini harus diiringi dengan motivasi belajar dan metode belajar yang beragam hingga kegiatan mengaji jadi kegiatan yang digemari oleh anak.

Sering juga terjadi ketidakadilan yang dilakukan oleh ortu dalam hal konsistensi. Abah Ihsan dalam bukunya di atas mengutip sebuah ayat Al-Qur’an.
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. Ash-Shaf: 2-3).

Ayat ini seharusnya menjadi landasan bagi ortu dalam hal konsistensi. Seperti kasus murid saya bernama Danish.

Danish mendaftar sekolah setelah kegiatan sekolah berlangsung selama satu bulan. Danish masih menggunakan pakaian bebas karena stock seragam sekolah habis dan dalam proses pembuatan. Alhasil Danish menjadi anak yang tidak PD. Danish tidak mau masuk kelas. Di luar kelas Danish selalu menangis minta pulang. Suatu hari Danish dibujuk untuk masuk kelas dan dia katakan nanti dia akan masuk kelas. Saya ajak dia membuat perjanjian dengan cara melihat jam dinding. Jika jarum panjang menunjuk angka 6, angka yang berada di bagian paling  bawah maka Danish akan dijemput untuk masuk kelas. Danish menyepakati perjanjian.
Sesuai perjanjian, saya keluar kelas untuk menjemput Danish  pada jam yang sudah ditetapkan. Dan alhamdulillah Danish konsisten akan perjanjian.

Ingat! Sesuai kesepakatan. Terkadang kita selaku orang tua sewenang-wenang kepada anak. Misalnya dalam kasus tadi kita menyelewengkan perjanjian. Perjanjiannya pukul 09.30 wib ternyata kita jemput masuk pukul 09.20 wib dengan alibi anak-anak kan tidak mengerti dengan jam dan belum tau dengan angka. Jika kasusnya seperti ini, maka kita yang tidak konsisten akan perjanjian. Walaupun anak belum mengerti, kita tidak seharusnya membohongi mereka. Hal semacam inilah sesungguhnya yang dapat merusak fitrah kebaikan dalam diri anak.

Selaku orang tua, mari senantiasa berlaku adil terhadap anak. Jika orang tua menuntut anak untuk konsisten maka ortu juga harus konsisten, karena konsisten adalah sebuah karunia yang juga diberikan Allah kepada anak-anak. Tentunya kita tidak mau menjadi ortu yang dibenci oleh Allah disebabkan kita yang tidak konsisten terhadap anak.

Mari kita syukuri karunia konsistensi yang telah Allah berikan kepada kita, para orang tua.

Advertisements

Tegas dan Beri Pelukan

Saya seorang guru dari 12 anak berusia 4-5 tahun. Dari 12 murid yang lucu dan menggemaskan itu, ada satu anak yang kinestetis banget. Kemungkinan besar, dia diam dalam jangka waktu yang lama hanya ketika dia tidur.

Lazu panggilan saya untuknya. Beberapa hari yang lalu, saya habis “berantem dengan lazu si anak 4 tahun. Lazu sangat ingin meminjam mainan yang dipegang temannya. Namun, Lazu belum mengetahui cara yang tepat untuk meminjam barang kepada temannya. Lazu mengambil begitu saja mainan yang sedang dimainkan oleh temannya tanpa izin. Temannya langsung mengadu kepada saya, “Bunda…. Lazu, ambil mainan nggak izin”. “Lazu..”, ucap saya memperingatkan. Temannya masih mengadu pada saya dengan ucapan yang sama. “Kalau pinjem mainan nggak izin dan rtidak mau berbagi mainan dengan teman, mainnya Bunda stop”. Masih dengan nada yang sama, anak itu mengadu. Seketika saya mendekati kedua anak tersebut, dan mengajak mereka melepaskan mainannya dan berhenti sejenak dari aktivitas bermain. Lazu tidak terima dan langsung menangis. Menangis sejadi-jadinya, menendang, menarik-narik jilbab dan baju saya hingga pin jilbab saya terlepas. Teman yang mengadu tadi hanya diam. Lazu masih mengamuk. Saya pegang tangannya sambil meminta dia untuk tenang. Saya lepaskan pegangan tangan, dia tetap menangis tapi tidak lagi mengamuk. Saya hanya mendiamkan Lazu dan temannya terus. Selama saya melepaskan tangannya, Lazu dan temannya tidak sedikitpun mendekati mainan. Mereka tetap berada di dekat saya berdiri. Sepertinya mereka tau kalau saya tidak memberikan izin. Kemudian saya tanya ke Lazu, “sudah nangisnya? Kalau sudah, gantian Bunda yang mau bicara”. Dia langsung mengelap air matanya. Moment itulah yang menurut saya tepat untuk menasihati anak sambil bertanya kronologis kejadiannya, ketika mereka sudah meluapkan emosinya. Saya katakan kepada mereka, enak nggak lihat temannya yang main nggak berantem. Setelah saya nasihati keduanya, saya langsung memeluk mereka satu persatu. Menyuruh mereka bersalaman tanda permintaan maaf. Saya harap, dengan pelukan mereka lebih tenang. Sekarang jika saya meminta untuk melakukan pelukan perpisahan, Lazu menjadi yang pertama melakukannya.

Saya banyak belajar dari mereka, murid kesayangan saya. Bahwa ketegasan perlu namun diakhiri dengan tindakan-tidakan manis sebagai bukti bahwa, kita, orang tua sangat peduli dan sayang kepada mereka.

The Next Superman

image

image

Kelak ukirlah pada sebuah keinginan yang tak pernah dipaksakan
Keinginan yang kelak akan membawa kebahagian hingga ruh tak lagi menyatu dengan badan
Keinginan yang mengukir senyum-senyum kebahagiaan
Keinginan yang senantiasa membawa keridhoan
Keinginan yang lahir dari hati dan dari illahi

Palembang, 6 januari 2016
Ditemani suara jangkrik dan kesunyian